Pangkur Jenggleng Reborn : 7 Tahun Vakum, Dagelan Asli Mataram Jogja Kembali Hadir

Jakarta (13/9/2021) kaperda.jogjaprov.go.id – Pangkur Jenggleng kembali hadir di Anjungan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (11/9/2021) dengan cerita “Mbujuk Keblithuk”. Kegiatan yang biasa disebut dagelan (komedi) asli Jogja ini menghadirkan pelawak kawakan Angger Sukisno dkk, Ciblek dan Endah Laras.

Acara dihadiri oleh perwakilan DPRD DIY, paguyuban diaspora masyarakat Jogja dan undangan yang diijinkan datang berjumlah 30 orang hasil dari kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak Taman Mini Indonesia Indah selama PPKM Level 3 di Jakarta.

Vakum selama 7 tahun sejak tahun 2014, Pangkur Jenggleng kembali hadir di Pendopo Anjungan DIY TMII dengan tampilan yang lebih kekinian untuk menghibur warga perantauan, khususnya warga Jogja di Jakarta.

“Pangkur Jenggleng pernah kita gelarkan di pendopo ini tahun 2014, sudah 7 tahun lebih tidak kita gelar. Kami menggelar Pangkur Jenggleng karena merupakan salah satu seni budaya asli Jogjakarta atau dagelan asli Mataram Jogja. Sebagai OPD yang salah satu ketugasan kami adalah melestarikan dan promosi budaya. Jadi sangat pas kalau kami nguri-nguri kabudayan Jogjakarta,” ungkap Nugrohoningsih, Kepala Badan Penghubung Daerah DIY.

Drs. H. Suwardi, Wakil Ketua Komisi A DPRD DIY menyampaikan bahwa kegiatan yang didanai oleh Dana Keistimewaan (Dais) ini, potensinya bisa digunakan oleh paguyuban warga Jogja di Jakarta.

“Danais bisa digunakan untuk berbagai kepentingan sebagai contoh pameran (Diaspora Yogyakarta Expo, 7-13 Juni 2021) yang beberapa bulan lalu kami juga kesini. Ini mengartikan bahwa kepada para Ketua Paguyuban dari Gunung Kidul, Kota Jogja, Bantul, Kulonprogo dan Sleman jika kegiatannya bisa menjadi produk unggulan di Jakarta atau bahkan bisa di ekspor, apakah itu bisa didanai oleh Danais, kami jawab bisa,” jelasnya.

Suwardi berharap kepada seluruh warga Jogja untuk dapat melestarikan dan mengenalkan budaya Yogyakarta di Jakarta.

“Melalui Pangkur Jenggleng ini dapat menjadi wahana siar melestarikan budaya Jogja dan dapat ditularkan kepada warga Jakarta,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *