Gudeg Jogja Bu Marni, Pengobat Rindu Yogyakarta di Jakarta Selatan

Yogyakarta dikenal dengan berbagai keunikan budayanya mulai dari Bahasa, busana, musik hingga sajian kulinernya. Salah satu yang paling terkenal adalah gudeg. Masakan olahan dari buah nangka mud aini memiliki cita rasa yang manis dan sedap. Sejarah Panjang gudeg telah hadir sejak zaman Kerajaan Mataram Islam, tepatnya di abad 16 Masehi di Yogyakarta. Seiring perkembangan zaman, gudeg yang tadinya hanya tersedia dalam bentuk gudeg basah, kini memiliki varian gudeg kering yang lebih tahan lama dan cocok untuk dijadikan oleh-oleh para wisatawan di Yogyakarta

Ketenaran Gudeg sudah tak perlu diragukan lagi, hal tersebut dIbuktikan dengan disematkannya julukan Kota Gudeg untuk Yogyakarta.

Kerinduan akan Kota Yogyakarta dan masakan gudeg kerap kali hadir, terutama bagi warga Yogyakarta ataupun wisatawan yang pernah mengunjungi Yogyakarta. Untungnya, banyak warga diaspora asli Yogyakarta yang membawa resep masakan gudeg dan kemudian menjajakannya di perantauan. Salah satunya adalah Ibu Marni dan pak Sugianto, suami istri yang asli dari Gunung Kidul, Yogyakarta. Pak Sugianto sudah menetap di Jakarta selama 31 tahun, hingga akhirnya membuka warung gudeg Ibu Marni tahun 2019 di Jalan Penerangan Raya No.7, RT.7/RW.7, Pesanggrahan, Kecamatan Pesanggrahan, Kota Jakarta Selatan. Tidak hanya gudeg, warung Ibu Marni juga menjual berbagai masakan “khas pedesaan” seperti sambal goreng, oseng jantung pisang, jangan Lombok (sayur cabai) dan oseng daun pepaya.

Gudeg Ibu Marni dijual tidak hanya di warungnya saja namun juga hadir di grabfood dan gofood. Untuk satu wadah gudeg dihargai 30 rIbu untuk online, dan 23 rIbu untuk offlinenya, satu wadah tersebut diklaim dapat dihidangkan untuk 5-6 orang. Pak Sugianto dan Ibu Marni juga tergabung dalam IKG (ikatan keluarga Gunung Kidul) untuk menjalin silarutahmi dengan sesama perantau asal Gunung Kidul, Yogyakarta. Menurut Banyak kegiatan dari IKG yang dinilai bermanfaat dan membantu para anggotanya.